VHRmedia.com, Jakarta - Sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri selama tiga tahun terakhir. Kemiskinan dan himpitan ekonomi menjadi penyebab tingginya jumlah orang yang mengkhiri hidup.
Pada acara peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta, Senin (8/10), Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti A Prayitno mengatakan, faktor penyebab orang nekat bunuh diri karena kemiskinan yang terus bertambah, mahalnya biaya sekolah dan kesehatan, serta penggusuran. Semua itu berpotensi meningkatkan depresi akibat bertambahnya beban hidup. “Dengan demikian faktor bunuh diri di Indonesia lengkap sudah,” ujar Prayitno.
Menurut Prayitno, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization yang dihimpun tahun 2005-2007 sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri. Jumlah kematian itu belum termasuk kematian akibat overdosis obat terlarang yang mencapai 50 ribu orang setiap tahun.
Prayitno mengungkapkan, dari jumlah tersebut, 41% bunuh diri dilakukan dengan cara gantung diri dan 23% dengan cara meminum racun serangga. “Perlu pembatasan akses mendapatkan pestisida, racun dan senjata api,” ujarnya.
Faktor psikologis yang mendorong bunuh diri adalah kurangnya dukungan sosial dari masyarakat sekitar, kehilangan pekerjaan, kemiskinan, huru-hara yang menyebabkan trauma psikologis, dan konflik berat yang memaksa masyarakat mengungsi.
Data Departemen Kesehatan menyebutkan, beberapa daerah memiliki tingkat bunuh diri tinggi, antara lain Provinsi Bali mencapai 115 kasus selama Januari – September 2005 dan 121 kasus selama tahun 2004. Pada 2004 di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tercatat 20 kasus bunuh diri dengan korban rata-rata berusia 51-75 tahun.
Kasus bunuh diri di Jakarta sepanjang 1995-2004 mencapai 5,8% per 100 ribu penduduk, kebanyakan lelaki. Dari 1.119 orang bunuh diri di ibu kota negara, 41% dengan cara gantung diri, 23% menenggak racun. Selain itu, 256 orang menemui ajal akibat overdosis obat.
Tingginya angka bunuh diri di Indonesia mendekati negara pemegang rekor dunia seperti Jepang mencapai lebih dari 30 ribu orang per tahun dan China yang mencapai 250 ribu orang per tahun.
Untuk mencegah tindakan bunuh diri, kata Prayitno, diperlukan identifikasi dini, terapi yang tepat, serta menekan harga obat antidepresi agar terjangkau pasien miskin yang membutuhkan. Diperkirakan 70% korban sebetulnya pernah berobat ke dokter, minimal dokter umum. Namun, dokter sulit mengenali tanda depresi orang yang akan bunuh diri.
Dalam pidato yang dibacakan Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Depkes, Krisno Tirtawijaya, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan perlu segera dilakukan tindakan mengendalikan sakit jiwa.
Agar sehat jiwa raga, pemerintah dan masyarakat harus memperhatikan aspek biologis, fisik, mental, dan sosial budaya. (E1)
Sumber: http://www.vhrmedia.com/vhr-news/berita-detail.php?.e=883&.g=news&.s=berita